Bincang Volume 02 – Silvia Adityavarna

volume-bincang-profile-02

Bincang Volume 02 menghadirkan SIlvia Aditya, yang telah 5 tahun bekerja sebagai desainer arsitektural di salah satu konsultan arsitektur di Jakarta. Topik di Bincang Volume ini terkait dengan kerja praktek arsitektur (architectural internship). Berikut hasil rekapan diskusi dan obrolan bersama Silvia. Bagi teman-teman yang ingin bertanya silahkan dapat bertanya melalui fitur comment  pada postingan ini, atau melalui instagram @volumefactory.

Pertanyaan (P) 1: Hal-hal apa saja yang perlu menjadi pertimbangan dalam memilih perusahaan untuk Kerja Praktek?

Jawaban (J) 1.1: Ketahui dan Tentukan Durasi Kerja Praktek

Berapa lama durasi kerja praktek yang dipersyaratkan oleh universitas? Apakah kamu berencana melakukan cuti satu semester untuk melakukan kerja praktek? Rentang waktu yang kamu miliki bisa berpengaruh ke pemilihan Konsultan, sebab ada beberapa konsultan yang memiliki persyaratan minimal durasi Kerja Praktek. Umumnya perusahaan besar akan mensyaratkan minimal 6 bulan Kerja Praktek. Selain itu kamu bisa mempertimbangkan melakukan Kerja Praktek ke luar negeri apabila kamu memiliki rentang waktu Kerja Praktek yang cukup lama.

Berikut adalah skenario yang mungkin dilakukan dengan jangka waktu Kerja Praktek yang berbeda:

  • 1-3 bulan: Kerja Praktek di studio atau perusahaan skala kecil hingga menengah
  • 3-6 bulan: Kerja Praktek di perusahaan besar atau di 2 perusahaan skala kecil hingga menengah
  • 6 bulan atau lebih : Kerja Praktek di perusahaan besar atau ke luar negeri

1.2. Ketahui ragam jenis konsultan arsitektur dan peminatan kamu

Pertama-tama kita harus membedakan antara konsultan arsitektur dan jenis perusahaan lain yang bergerak pada disiplin yang berhubungan dengan konstruksi dan bangunan, seperti kontraktor dan developer. Saran saya, walaupun ada beberapa kampus yang membebaskan untuk memilih KP di perusahaan yang bergerak dalam disiplin lainnya seperti kontraktor dan developer, untuk masa KP sebaiknya pilih konsultan arsitektur. Hal ini karena seorang sarjana arsitektur memang pada dasarnya dipersiapkan untuk melakukan praktek arsitektur professional layaknya yang diterapkan oleh sebuah konsultan arsitektur murni. KP di konsultan arsitektur adalah kesempatan kita melakukan takar diri apakah kita memang merasa cocok bekerja dalam lingkungan disiplin arsitektur.

Nah, selanjutnya kita juga perlu mengetahui bahwa konsultan atau biro arsitektur itu sendiri ada bermacam-macam jenisnya. Andrew Pressman (2006) membagi model bisnis biro arsitektur berdasarkan dua faktor besar, yaitu biro arsitektur berdasarkan tuntutan klien dan berdasarkan nilai yang dianut oleh pimpinan perusahaan. Berdasarkan tuntutan klien, biro arsitektur dibagi menjadi 3 jenis:*

  1. Strong Idea, expertise based: biro dalam kelompok ini memiliki keahlian spesifik dan menghasilkan karya yang bersifat inovatif dan unik. Umumnya biro ini tergantung oleh seseorang atau beberapa personal yang memiliki keahlian mendalam pada hal-hal tertentu.
  2. Strong Service, experience based: mengandalkan pengalaman dan keandalan khususnya pada proyek yang bersifat kompleks. Pada umumnya klien menginginkan untuk banyak terlibat dalam proses desain.
  3. Strong Delivery, efficiency based: mengandalkan efisiensi dalam proses. Jenis proyek pada umumnya bangunan yang bersifat mengulang.

Sedangkan berdasarkan nilai yang dianut oleh pimpinan perusahaan, biro arsitektur dibagi menjadi 2 jenis:

  1. Strong Practice: menjalankan biro seperti nilai-nilai yang dianut dalam kehidupan pemimpin biro tersebut. Keberhasilan biro diukur berdasarkan nilai kualitatif. Evaluasi dilakukan dengan menanyakan “apa yang kita rasakan dari pekerjaan kita?”
  2. Business Centered: mengoperasikan biro lebih dari kehidupan pemimpinnya dan mengukur keberhasilan berdasarkan nilai kuantitatif. Evaluasi dilakukan dengan menanyakan “bagaimana kita mengerjakannya?”

Nah seperti itu gambaran klasifikasi biro arsitektur kalau menurut teorinya. Kalian juga bisa melakukan riset sendiri bersama dengan teman-teman untuk mengklasifikasi konsultan arsitektur yang kalian minati. Kalau kalian belum mengetahui persis arah peminatan kalian, kalian bisa ikuti tips yang berikut ini:

1.3. Riset secara mendalam mengenai Konsultan yang kamu pilih

Berikut adalah hal-hal penting yang perlu diriset sebelum memilih Konsultan sebagai tempat KP:

  • Jenis proyek apa saja yang dikerjakan oleh Konsultan tersebut?

Proyek apa saja yang umumnya dikerjakan oleh Konsultan yang kamu minati? Apakah Konsultan tersebut banyak mengerjakan proyek sayembara? Skala proyek profesional apa saja yang sudah ditangani? Apapun skala dan tipologi proyek yang kamu minati, faktor keterbangunan penting menjadi sorotan karena ini yang menentukan apakah perusahaan ini memiliki kompetensi dalam melakukan tahap pekerjaan profesional secara keseluruhan. Sebab kompetensi arsitek profesional dinilai tidak hanya dari segi pembuatan konsep, tetapi juga hingga pengembangan, koordinasi antar disiplin, pengawasan dan manajemen proyek.

  • Apakah perusahaan tersebut sudah memiliki lisensi dan pemilik perusahaannya telah memiliki Sertifikat Keahlian Arsitek yang dikeluarkan oleh IAI?

Perusahaan yang telah terlinsensi dan pemiliknya memiliki SKA umumnya memiliki proses kerja yang telah mengikuti standar IAI dimulai dari konseptual, pengembangan desain, pembuatan gambar kerja, persiapan gambar tender, dan pengawasan lapangan. Standar proses kerja ini akan memudahkan kita dalam memahami proses kerja Konsultan secara keseluruhan. Meskipun dalam masa magang tidak mungkin dapat melewati seluruh proses desain secara utuh, tetapi diharapkan mahasiswa memiliki gambaran mengenai posisi penugasannya terhadap rentang jadwal pekerjaan proyek secara keseluruhan. Hal ini juga akan memudahkan mahasiswa dalam pembuatan laporan KP nantinya.

Selain itu perusahaan yang telah terlisensi umumnya akan mengikuti prosedur regulasi teknis bangunan yang telah ditentukan oleh pemerintah setempat sehingga mahasiswa dapat belajar mengenai regulasi yang akan sangat bermanfaat ketika terjun ke dunia praktek.

  • Apakah perusahaan tersebut telah menerima mahasiswa Kerja Praktek sebelumnya?

Akan lebih baik apabila perusahaan yang kamu pilih telah menerima mahasiswa KP sebelumnya, dengan demikian Konsultan tersebut telah memiliki job description yang jelas untuk mahasiswa KP, sehingga tugas yang diberikan lebih terorganisir dan jelas dalam waktu KP kamu yang singkat. Hal ini bisa kamu ketahui dengan melakukan riset melalui internet ataupun menanyakan pada para senior yang telah melakukan KP.

Pertanyaan (P) 2: Hal-hal apa saja yang perlu disiapkan untuk melamar Kerja Praktek?

Jawaban (J) 2: Setiap perusahaan akan memiliki prosedur yang berbeda-beda dalam menerima mahasiswa KP. Oleh karena itu, sebelum mengajukan lamaran, hubungi perusahaan yang dituju terlebih dahulu.

Pada umumnya secara formal untuk mengajukan lamaran kerja praktek, pelamar mengirimkan dokumen berupa Portfolio, Resume/CV, dan Transkrip Nilai. Namun ada beberapa perusahaan yang mensyaratkan wawancara dan test kemampuan. Walaupun di satu sisi prosedur wawancara terkesan ribet, tetapi di sisi lain proses wawancara dapat memberikan benefit untuk pelamar untuk mengorek lebih dalam lagi tentang proses kerja dan proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan tersebut sehingga kita memiliki bahan pertimbangan yang lebih jauh dalam hal menentukan apakah perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sesuai dengan ekspektasi kita sebagai mahasiswa pelamar Kerja Praktek.

Pertanyaan (P) 3: Skill dan pengetahuan apa saja yang diharapkan bisa didapat selama masa Kerja Praktek?

Jawaban (J) 3: Ada dua jenis pengetahuan utama yang akan kita dapatkan selama proses Kerja Praktek, yaitu: Proses Pekerjaan Arsitektur (Desain) dan Manajemen Biro (komunikasi, workflow, organisasi perusahaan).

IAI membagi tahapan kerja arsitek menjadi enam bagian besar (sumber: website IAI [https://iai-jakarta.org/informasi/lingkup-pekerjaan-arsitek]). Tahap dan lingkup pekerjaan arsitek ini perlu kalian ketahui dan pelajari secara seksama karena inilah yang akan menjadi basis atau patokan mengenai skill dan pengetahuan penting apa saja yang perlu didapatkan selama proses KP.

Berikut adalah enam tahapan kerja arsitek dan gambaran pengetahuan apa saja yang kalian akan dapatkan per tahapan tersebut:
1. Tahap konsep rancangan:

    • Pemikiran dan faktor-faktor apa saja yang mendasari dan mempengaruhi munculnya sebuah rancangan: (contoh: kondisi tapak, budaya, regulasi setempat, program, kebutuhan klien, biaya, dan lain-lain)
    • Memformulasikan konsep rancangan berdasarkan data atau faktor-faktor rancangan yang ada.
    • Bagaimana mengkomunikasikan konsep rancangan yang telah dibuat kepada klien, baik melalui persiapan presentasi maupun keikutsertaan dalam client meeting.

2. Tahap pra rancangan/skematik desain dan (3) Tahap pengembangan rancangan:

    • Mengembangkan rancangan dari konsep yang sudah ada, contohnya: pengembangan tampak bangunan, desain lansekap, dan lain-lain.
    • Koordinasi dengan pihak-pihak dari disiplin lain yang akan membantu terlaksananya gambar rancangan secara utuh, seperti: konsultan struktur, MEP, quantity surveyor, konsultan lighting, konsultan lansekap. Pihak-pihak yang dilibatkan bisa berbeda-beda tergantung dari kebutuhan setiap proyek.

4. Tahap pembuatan gambar kerja hingga (5) Tahap proses pengadaan lelang/tender

  • Pada tahap ini, umumnya rancangan arsitektur telah terkunci dan pekerjaan akan fokus pada proses produksi gambar. Di tahap ini kalian akan banyak belajar mengenai pembuatan gambar kerja yang nantinya akan digunakan untuk proses tender ataupun konstruksi di lapangan. Apabila kalian terlibat pada tahap ini, jangan hanya memposisikan diri sebagai drafter tetapi berusahalah untuk memahami logika di balik gambar kerja yang kalian buat.

6. Tahap pengawasan berkala (konstruksi)

  • Mempelajari proses kontruksi dengan terjun langsung ke lapangan.
  • Pengawasan lapangan, mengobservasi cara arsitek kepala mengatasi kendala-kendala yang terjadi di lapangan, kesesuaian antara gambar dengan lapangan, koordinasi dengan kontraktor.

Karena terbatasnya waktu Kerja Praktek, sudah pasti kita tidak akan bisa terlibat dalam seluruh tahapan kerja arsitek tersebut. Bahkan dalam satu tahapan pun, seorang mahasiswa KP belum tentu akan terlibat dalam seluruh pekerjaan. Oleh karena itu, usahakan untuk aktif bertanya, terutama mengenai proses kerja yang berhubungan dengan tahapan pekerjaan tersebut, sehingga kita bisa memahami keseluruhan tahap pekerjaan secara jelas.

Umumnya apabila kita memilih konsultan yang sifatnya studio dan mengutamakan keunikan serta orisinalitas ide, kita akan terlibat banyak dalam konsep desain. Sedangkan pada perusahaan besar yang cenderung berorientasi pada produksi, kita akan terlibat banyak pada proses gambar kerja. Namun bukan berarti hal ini terjadi di setiap kasus, kembali lagi tergantung pada proyek dan tahapan apa yang kebetulan sedang ditangani oleh perusahaan tersebut. Setiap tahapan desain memiliki daya tarik dan tantangan tersendiri, semuanya kembali lagi ke bagaimana perusahaan mengatur job description untuk mahasiswa KP.

Di luar pengetahuan yang berhubungan proses desain tersebut, selama proses Kerja Praktek, secara otomatis kita juga akan mendapatkan sedikit gambaran tentang bagaimana proses kerja arsitek profesional di kantor besar maupun studio dan juga mengenai manajemen biro. Bagaimana struktur organisasi di perusahaan tersebut? Bagaimana prosedur pembagian kerjanya? Apakah 1 proyek dikerjakan oleh satu orang atau satu tim? Apakah sistem manajemen perusahaan tersebut mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan?

Pertanyaan (P) 4: Apakah mungkin melakukan Kerja Praktek di luar negeri? Bagaimana proses persiapannya?

Jawaban (J) 4: Kemungkinan melakukan Kerja Praktek tidak hanya sebatas di dalam negeri saja, tetapi juga hingga ke luar negeri. Namun tentu saja effort yang harus diberikan akan jauh lebih besar daripada Kerja Praktek di dalam negeri. Pertimbangan pertama adalah waktu dan tenaga yang lebih besar untuk mempersiapkan portfolio. Karena ketika melamar ke konsultan luar, sudah pasti kita bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa internasional, oleh karena itu mungkin diperlukan waktu untuk mempelajari standard portfolio internasional dan mencoba me-review portfolio kita sendiri

Melamar KP ke perusahaan luar sebaiknya dilakukan 3 hingga 4 bulan sebelum periode KP karena banyak hal yang harus dipersiapkan seperti visa kunjungan (untuk negara-negara yang membutuhkan visa)

Pertanyaan (P) 5: Tips umum selama menjalani KP

Jawaban (J) 5:

5.1. Jangan melakukan Kerja Praktek di tempat yang seadanya.

Jangan memilih biro hanya karena kenalan, karena merasa hanya adanya itu saja, ataupun karena ikut-ikutan teman. Ada banyak sekali pilihan biro! Lakukan langkah-langkah riset di atas untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang lebih kaya dan maksimal sesuai dengan peminatan kalian. Memang sangat disayangkan bahwa di Indonesia belum ada platform yang memberikan informasi mengenai Konsultan Arsitektur yang membutuhkan mahasiswa Kerja Praktek, oleh karena itu kita harus aktif mencari tahu sendiri mengenai biro yang sesuai dengan minat kita.

5. 2. Tuntut universitas untuk memberikan rekomendasi tempat Kerja Praktek yang bisa menangani anak Kerja Praktek secara baik dan selayaknya.

Berdasarkan pengalaman saya, banyak kampus yang tidak memberikan arahan secara jelas mengenai jenis-jenis biro arsitektur dan biro mana saja yang bisa direkomendasikan untuk mahasiswa Kerja Praktek. Pihak kampus (terutama yang mewajibkan program Kerja Praktek) sebaiknya melakukan pendataan mengenai perusahaan yang menerima mahasiswa Kerja Praktek dari angkatan sebelumnya dan melakukan penilaian atau skoring terhadap perusahaan yang layak direkomendasikan untuk mahasiswa angkatan selanjutnya.

5.3. Be patient!: proses Kerja Praktek adalah kesempatan belajar, tidak perlu berkecil hati apabila selama KP kalian tidak mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam konsep desain. Justru periode Kerja Praktek adalah kesempatan untuk mengobservasi dan menyerap pengetahuan-pengetahuan praktikal yang tidak didapatkan di dunia perkuliahan.

Artikel ini ditulis berdasarkan studi literatur, kuesioner yang diisi oleh 26 orang responden dan pengalaman pribadi penulis. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar2nya pada BE, FE, RI, IS, NA, ER, HA, DAAAS, KL, FR, PP, IF, RI, YS, DI, SS, NH, DI, NPK, DI, PT, NE, CS, SS, AA, dan AS yang telah meluangkan waktunya untuk membagi pengalamannya melalui kuesioner tersebut.

Sumber lainnya:

https://iai-jakarta.org/informasi/lingkup-pekerjaan-arsitek

digilib.itb.ac.id/…/jbptitbpp-gdl-rilantikam-31524-4-2008ts-3.pdf

 

About Volume Factory

Volume Factory adalah suatu tim yang yang terdiri dari desainer, dosen dan mahasiswa yang fokus pada bermacam area seperti arsitektur, perkotaan, seni, desain, teknologi, pendidikan dan sistim keberlanjutan. Volume Factory menekankan isu-isu kontemporer kehidupan urban melalui desain, program, penelitian, pameran dan publikasi. Tujuannya adalah untuk mengeksplore ide-ide baru, bereksperimen, menciptakan solusi untuk kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: