Fun Connectivity

Hedista Rani Pranata
Volume Factory & Studio ArsitektropiS
hedistarani@gmail.com

Sebagai masyarakat urban, permasalahan muncul tidak hanya di pekerjaan saja, namun juga hambatan-hambatan di perjalanan (commuting). Sebut saja kemacetan, kendaraan umum yang sesak, polusi udara, bahkan hingga kriminalitas. Permasalahan tersebut tentu saja mengusik emosi dan kebahagiaan masyarakat kota. Memang sulit untuk mendefinisikan dan mengukur kebahagiaan, karena setiap orang memiliki tolak ukur “kebahagiaan” yang berbeda. Namun dalam buku Happy City karangan Charles Montgomery, setidaknya ada 5 poin penting dalam menjadikan sebuah kota yang menyenangkan. Pertama, banyak uang tidak berarti banyak kebahagiaan. Kedua, perjalanan commuting yang panjang mengurangi kebahagiaan kita. Ketiga, hal yang membuat kota besar menarik untuk ditinggali pada akhirnya akan menjadikannya semakin sulit untuk ditinggali. Keempat, more trees = more happiness. Dan yang terakhir, fewer cars = more happiness.

Memang, perjalanan pulang dari kantor yang panjang dan macet sangatlah melelahkan. Setiap orang sudah dalam keadaan lelah dan ingin segera pulang, belum lagi penuhnya kereta, jalanan, bus, angkot membuat kesal. Sulit sekali untuk dapat menikmati commuting dengan kondisi seperti itu. Padahal, kebahagiaan masyarakat kota dapat mempengaruhi produktivitas mereka.[1] Sayang sekali jika masyarakat kota tidak dapat menikmati kehidupan kota yang sebenarnya (bisa menjadi) menyenangkan. Mungkin jarak memang tidak dapat kita persingkat, namun sebenarnya kita dapat membuat jarak ‘terasa’ singkat. Untuk membuat perjalanan terasa singkat, tentunya kita perlu memperhatikan konektivitas di antara kedua titik. Perlu dibuat konektivitas yang menyenangkan—atau mungkin produktif?

Teknologi Pavegen (lantai yang dapat menghasilkan energi dari setiap injakkan kaki) sudah mulai berkembang di banyak negara maju. Saya pikir teknologi ini dapat digunakan di sepanjang halte bus atau peron kereta yang sering sekali penuh sesak pada peak hours. Selain meningkatkan daya untuk WiFi, charging, musik, para commuters dapat sambil berolahraga. Jarak terasa singkat karena kita dapat melakukan banyak hal yang menyenangkan, ketimbang hanya bengong mengantri. Fun and productive connectivity helps the city to be happy. #WeAreTheCity

[1] Dari studi Prinz, Alloy & Hunger, Bjorn (2011)

About Volume Factory

Volume Factory adalah suatu tim yang yang terdiri dari desainer, dosen dan mahasiswa yang fokus pada bermacam area seperti arsitektur, perkotaan, seni, desain, teknologi, pendidikan dan sistim keberlanjutan. Volume Factory menekankan isu-isu kontemporer kehidupan urban melalui desain, program, penelitian, pameran dan publikasi. Tujuannya adalah untuk mengeksplore ide-ide baru, bereksperimen, menciptakan solusi untuk kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: